Setelah Menonton Bohemian Rhapsody

Menit-menit terakhir: Freddie Mercury sedang bernyanyi di atas panggung Live Aid, sebuah konser amal terbesar pada tahun 1985 yang diadakan di Wembley Stadium, London. Sementara aku sedang menunggu kapan saat paling tepat untuk berdiri dari kursi bioskop, memberikan standing applause untuk film Bohemian Rhapsody.

Menjelang film berakhir aku memang agak gelisah. Aku belum pernah melakukan standing applause-tepuk tangan berdiri, di dalam bioskop. Apakah akan terlihat norak, apakah berlebihan, aku gugup, tetapi sekaligus sangat ingin melakukannya. Jika ingatanku tidak cacat, ini pertama kalinya aku menonton film biopic seorang musisi di dalam bioskop. Layar besar, suara jernih, kursi yang nyaman, serta udara sejuk membuatku sangat larut. Sialan memang xapitalisma.

Film Bohemian Rhapsody mengirim perasaan bahagia yang meletup-letup kepadaku, sebuah perasaan yang akhirnya mengantarkan aku pada, “Oh mungkin ini alasannya kenapa ada orang yang sangat tergila-gila dengan sebuah band.” Aku menangis, tertawa, sedih, tertawa lagi, begitu seterusnya sepanjang film, puncaknya saat Freddie dengan setelan jeans dan kaos warna putih tanpa lengan bernyanyi dengan sangat indah di atas panggung Live Aid. Rasanya semua emosi tumpah melihat sebegitu banyaknya penonton bernyanyi mengikuti Freddie. Ia seorang queer, seorang imigran dari Parsi yang pindah dan menetap di London, seorang anak laki-laki dari keluarga yang menganut agama Zoroaster, bergigi tonggos, dan ia berhasil diterima bahkan lebih dari itu. Seperti kata Aulia Adam dalam tulisannya di Tirto yang menyebutnya sebagai quadruple minority-minoritas empat kali lipat. Ia sempurna sebagai seorang minoritas dan bahkan itu tidak mengurangi rasa percaya dirinya. Aku sangat larut melihatnya bernyanyi di atas panggung meski cuma dalam film, ia seperti menampilkan sebuah pertunjukan, suatu hal yang sampai sekarang tidak berhasil kudapatkan ketika menonton konser apapun secara langsung. Mungkin aku memang bukan penikmat konser. Atau mungkin aku hanya belum ketemu konser yang apik. Enggak tahu

BOHEMIAN RHAPSODY.

Sebagai anak baru dalam hal permusikan, film buatan Bryan Singer ini membikin aku akhirnya mendapuk Queen dan Freddie Mercury sebagai idola. Secara impulsif aku bahkan berkata pada pacarku, “Mulai sekarang aku mau mengumpulkan semua merchandise yang ada hubungannya sama Queen atau Freddie Mercury.” Tapi ya namanya impulsif, mustahil aku memenuhinya kecuali kalau sudah kaya. Aku mulai memutar lagu-lagunya berkali-kali. Somebody to Love, Don’t Stop Me Now, Love of My Life, Radio Ga Ga, Another One Bites The Dust, tapi terutama Don’t Stop Me Now. Lagu ini membuatku bersikap sedikit berani. Mendengarkan lagu-lagu mereka rasanya seperti sedang menyuntikkan tambahan daya ke dalam badanku. Beberapa lagunya terdengar sedih seperti Somebody to Love, tetapi mereka melawannya. Beberapa lagi terdengar sangat bersemangat, penuh percaya diri, bahkan meski lagunya sedih.

Aku akhirnya berdiri dan bertepuk tangan meski sangat sebentar setelah layar film mulai gelap. Tidak ada yang menghiraukanku. Aku pergi ke toilet sebelum pulang dari bioskop dan mendengar sekelompok perempuan berkomentar tentang Bohemian Rhapsody.

“Udah kubilang mending nonton Nutcracker.”

Hanya itu yang mampu aku dengar.

Aku membuka telepon seluler dan masuk ke dunia maya, seorang temanku juga baru saja kelar menonton film ini dan aku bertanya, “Bagus nggak?”

Ia menjawab, “B aja.”

Sehari setelah itu, aku membaca ulasan film Bohemian Rhapsody yang ditulis Aulia Adam di Tirto. Ia menulis, “Semua klise tentang film biografi musisi ada dalam Bohemian Rhapsody.”

Jauh sebelum menonton film ini, aku hanya mendengar sepatah-sepatah informasi tentang Queen, seperti misalnya Freddie Mercury biseksual. Setelah menonton, aku mendengarkan lebih banyak lagu-lagunya dan bahwa ternyata dalam film ini ia dipersepsikan sebagai homoseksual. Setelah membaca ulasan film Aulia Adam, aku jadi berpikir kembali dan menyadari bahwa ketika menonton film ini aku benar-benar menyerahkan diriku sepenuhnya, hingga tidak menghiraukan formula klisenya atau kesalahannya yang fatal. Mengutip apa yang ditulis Aulia di akhir paragrafnya:

Saya sangat setuju dengan review Sheila O’Mailey di Rogerebert.com. Menolak queerness Freddie sebagai seniman adalah keputusan paling konyol yang dibuat Bohemian Rhapsody.

“Jenius tidak datang dari ruang hampa,” tulis O’Malley.

“Freddie Mercury tercipta dari semua kekacauan dan gairah yang hadir di hidupnya. Dia mencintai Elvis, opera, music hall, kostum, Inggris era Victorian, dan, ya, seks. Banyak sekali seks.”

“Ekspresi seksual adalah kemerdekaan, dan kau akan merasakan kegembiraan itu dalam suara Freddie yang cuma muncul sekali dalam satu generasi itu. Kau tak akan bisa membahas Freddie Mercury tanpa membahas sensibilitas queer yang menggiring (hidupnya), konteks queer yang dijalaninya. Atau, kau bisa mencoba begitu, seperti film ini, dan gagal.”

bohemian-rhapsody-2018-rami-malek

Bohemian Rhapsody ternyata jatuh ke dalam simplifikasi. Menyederhanakan kerumitan yang dimiliki Freddie Mercury, yang dimiliki Queen. Menentukan secara hitam putih siapa antagonis dan siapa protagonis. Menyusunnya ke dalam formula klise biografi musisi. Aku tidak dapat menarik tepuk tangan berdiriku, tidak mau juga. Aku memang sangat menikmati filmnya dan bahkan ingin menontonnya sekali lagi. Tapi paling tidak setelah menonton Bohemian Rhapsody, setelah membaca ulasannya, aku makin mengenal Queen dan tetap mendapuknya sebagai idola.

feature-bohemian-rhapsody

 

 

Advertisements

Si Tukang Omong Kosong

Bagaimana sebuah omong kosong bekerja?

Pertama, ia membutuhkan media. Koran, majalah, buletin, sebuah buku, televisi, radio, sebuah pameran, sebuah blog, atau tentu yang paling mudah saja deh: media sosial. Instagram memudahkan pekerjaannya, apalagi dengan fitur story dan highlight. Kemudian twitter mendukungnya sepenuh hati dengan menyediakan tempat buang sampah: sebuah keluh kesah berkepanjangan sebagai afirmasi untuk mendukung omong kosong yang dibuatnya bekerja dengan baik. Lalu facebook? Barangkali karena tidak cukup panjat-sosial-able, terlalu kuno, dan tidak menjangkau publik yang diinginkannya, jadi cukup buat punya-punyaan saja.

Setelah syarat pertama terpenuhi, tokoh kita justru masih punya sebuah pekerjaan lagi, yang terpenting dan mendesak: ia perlu mengarang sebuah cerita yang meyakinkan.

Berpikir dan terus berpikir, mengapa tidak membagikan sebuah kisah sakit hati? Tapi bagaimana ya memulainya? Sebaiknya diberi judul apa nih?

Ia kembali berpikir. Menghabiskan tenaga dan waktunya hanya untuk itu. Sampai tiba saatnya, eureka!

Bagaimana kalau dimulai dari tiga puluh kesalahan bekas orang yang menyakitinya? Sebuah daftar kesalahan yang amat buruk, yang lahir dari sikap jahat seorang antagonis yang sempurna.

Betul-betul menarik. Ia memuji dirinya sendiri. Kenyataannya, tokoh kita bahkan lebih dari itu, bukan hanya pandai menciptakan konten yang menarik, tapi juga pandai mencari momentum, mencari simpati di saat yang tepat. Banyak orang tertarik dengan ceritanya. Sebagian marah, sebagian lagi bangga melihat bagaimana ia mampu berjuang memutus hubungan dengan orang semacam itu. Ia nyaris berhasil membuat omong kosongnya bekerja. Setidak-tidaknya mendatangkan popularitas. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.

Meski hanya nyaris.

Ia lupa kalau tidak ada kesempurnaan, bahkan sekali pun untuk seorang antagonis. Daftar keburukan yang ia umumkan, cerita-cerita perjuangan yang ia sampaikan kelewat sempurna sampai-sampai membuat publik bertanya, beneran nga nih?

Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur bergulir, dan sebuah cerita agar terkesan meyakinkan mesti terus-menerus disampaikan. Berkabarlah ia kepada seorang, dua orang, tiga orang, sepuluh, seratus, lima ratus, seterusnya. Mengutip sebuah teori, sebuah omong kosong agar dapat menjadi kebenaran perlu disampaikan berulang-ulang bukan?

Tentu sambil mengaku bahagia padahal mesin omong kosong yang ia ciptakan menunggu seperti hantu di sudut kamar: membuatnya makin cemas, makin takut.

Unik dan Menggoda, Cita Rasa Nasi Goreng Ikan Asin Bu Ita

 “Jika nasi goreng dapat disandingkan dengan lauk apa saja, mengapa tidak dengan ikan asin?”

Pikiran itu muncul begitu saja justru ketika aku untuk pertama kalinya tengah mencicipi sepiring nasi goreng ikan asin buatan bu Ita pada suatu malam. Saat itu hampir jam sepuluh dan warung nasi goreng yang berlokasi di Jalan Pandega Marta, Sleman, Yogyakarta ini sedang tidak terlampau ramai. Ada dua meja panjang kosong saat aku tiba di sana sementara dua meja lainnya terisi. Malam itu rupanya aku tengah beruntung karena tidak butuh waktu lama sampai pesananku terhidang: sepiring nasi goreng dengan taburan ikan asin yang dipotong seukuran dadu kecil.

nasgor3
Nasi goreng ikan asin buatan bu Ita

Butuh waktu sekian menit sampai aku dapat menjatuhkan pilihan. Bagaimana tidak, ada sekitar 30 varian makanan yang dijual di warung ini. Ada mie, kwetiauw, capcay, fu yung hay, ayam goreng, nasi goreng, serta masih banyak lainnya. Tentu saja dari sekian pilihan, yang paling mendominasi dan lantas menjadi ikon adalah nasi goreng. Varian dari menu ini bahkan mencapai 18 macam. Tidak heran jika kemudian tempat makan ini lebih dikenal dengan sebutan Warung Nasi Goreng Bu Ita.

Karena merasa tidak yakin, malam itu aku memilih menu yang sama yang dipesan oleh kawanku: satu porsi nasi goreng ikan asin.

“Bagaimana rasanya?”

“Coba saja.”

Lazimnya, nasi goreng tersaji bersama dengan telur, sosis, ayam, bakso, udang, atau paling liar babat dan iso. Aku pernah mencoba semuanya dan tentu beberapa terasa enak sementara beberapa lainnya terasa hambar. Tapi ikan asin? Tidak pernah terpikir sebelumnya.

nasgor2
Warung Nasi Goreng Bu Ita ada di Jalan Pandega Marta Raya, Sleman, Yogyakarta

Warung Nasi Goreng Bu Ita buka setiap hari mulai pukul lima sore sampai dengan pukul dua belas malam. Tempatnya kecil saja, terdiri dari dua meja ukuran sedang di dalam kios serta dua meja panjang di halaman kios. Dapurnya terletak di antara keduanya, membelah bagian dalam dan bagian luar. Pengunjung jadi dapat menyaksikan bagaimana pesanannya diolah.

Pemiliknya, bu Ita, adalah seseorang dengan ingatan yang tajam. Pernah suatu ketika setelah lama tidak berkunjung, aku mampir untuk membeli nasi goreng. Ia seperti biasa, tengah sibuk memasak. Dengan wajah penuh keringat, ia menyapaku dengan sangat ramah.

“Pesan apa? Nasi goreng ikan asin? Biasanya kan itu.”

Aku tentu kaget. Ku kira ia sudah cukup tua untuk mengingat para pelanggannya, ternyata tidak.

Bu Ita berbadan gemuk, berjiwa marketing, dan masakannya sedap. Sebagai seorang pemilik sekaligus tukang masak, ia pribadi yang ceriwis. Nyaris setiap kali aku ke sana, ia tak pernah luput terlibat percakapan dengan para pembeli. Aku sendiri sampai betah memperhatikan bagaimana ia memberikan servis kepada para pelanggan. Biasanya sambil menggoreng nasi atau mengaduk mie, ia dengan suara cukup keras akan mengobrol bersama pelanggan yang duduk tak jauh dari tempatnya. Dengan sikap memasak yang santai semacam itu, masakannya selalu enak. Andalanku: nasi goreng ikan asin, tidak pernah keasinan atau malah kurang asin. Selalu gurih, panas, dan tersaji dalam porsi besar.

nasgor1
Bu Ita dengan salah satu pelanggan

Selain ikan asin, varian lain yang cukup mengundang rasa penasaran adalah nasi goreng teri medan, nasi goreng iga sapi, serta nasi goreng ayam panir. Sayangnya sampai sekarang aku tidak pernah berhasil mencoba salah satu di antaranya. Rasa penasaranku selalu kalah dengan bayang-bayang rasa gurih asin yang menggoda dari nasi goreng ikan asin buatan bu Ita. Pada akhirnya aku tidak cukup tangguh melawan godaan nasi goreng ini dan selalu menyerah dengan berkata:

“Bu, nasi goreng ikan asin satu ya.”

Begitu lah.

Pindah ke Jalan Damai

Seandainya saja rumah kos Lennon bukan di Jalan Damai, barangkali malam itu aku enggak jadi main. Kalau enggak jadi main, barangkali kami bakal berakhir lain.

Selama tinggal di Yogyakarta aku tiga kali menyewa kamar: di Jalan Kaliurang, Jalan Gejayan, lalu kembali lagi ke Jalan Kaliurang. Buat orang yang pernah tinggal di Semarang, bagiku kota Yogyakarta nggak besar. Tidak banyak jalan raya yang bahkan muat untuk dibagi menjadi tiga ruas seperti misalnya di bagian pusat kota Semarang: Jalan Pemuda.

Jalanan di kota dengan puluhan kampus ini kebanyakan hanya tinggal lurus, belok-belok sedikit, dan berakhir dengan Ring Road. Istilah Ring Road sendiri aku baru mengenalnya sewaktu tiba di Yogyakarta, sekitar 14 bulan yang lalu. Sampai saat ini aku masih kesulitan membedakan Ring Road dengan perempatan besar yang biasa aku temui saat harus bergerak dari satu jalan ke jalan yang lain. Dua-duanya sama besarnya dan sama-sama berbentuk perempatan. Gara-gara gagal memahami ini aku jadi sering tersesat saat mencari alamat. Pengetahuanku soal jalan raya benar-benar buruk. Untungnya dari tempatku di Jalan Kaliurang ke Jalan Damai tidak butuh peta yang rumit. Nggak sampai lima belas menit dan tidak perlu lewat perempatan besar. Gampang. Meskipun tentu, sekali dua kali masih saja salah jalan.

Jalan Damai memang damai seperti namanya. Itu kata Lennon, suatu ketika.

“Tahu nggak, Tan? Kenapa Jalan Damai namanya Jalan Damai?”

“Nggak tahu. Kenapa?”

“Ya karena damai. Lihat dong,” kata Lennon dibarengi tawa kecil. Aku cuma diam, tidak berhasil menangkap dimana lucunya.

Setelah itu ia baru mulai presentasi: menyebut tempat-tempat makan, akses ke pusat kota, serta lingkungan yang relatif tidak ramai meskipun banyak pusat keramaian. Semuanya merujuk buat menjelaskan alasannya menyebut Jalan Damai terasa damai baginya. Kami mengobrol di atas motor, aku yang kebetulan sedang membonceng di belakang lamat-lamat mengamati sekitar. Indomaret, burjo, warung makan nasi padang, kios belanja sayur, cafe, warung kopi, klinik kesehatan, bengkel. Memang relatif lebih lengkap daripada daerah tempat tinggalku sebelumnya. Bagi anak kos, fasilitas semacam ini tentu saja sangat memudahkan mobilitas.

Aku yang memang saat itu (dan sampai sekarang haha) nggak punya banyak teman di Yogyakarta sontak jadi sering main ke tempat Lennon. Kamar kosnya kecil dan kamar mandinya barengan dengan yang lain. Banyak buku, majalah, dan printilan-printilan lain semacam stiker di kamarnya yang sangat asing bagiku. Kami memang nyaris membaca buku dan majalah yang berbeda, menonton film yang berbeda, dan tentu saja yang paling kentara: mendengarkan musik yang jauh berbeda. Lennon membaca On The Road, aku membaca Para Priyayi. Lennon menonton Juno, aku menonton Spirited Away. Lennon mendengarkan Vampire Weekend, aku paling gaul mendengarkan Efek Rumah Kaca. Itu belum termasuk dengan ketertinggalanku yang baru pertama kali memutar piringan hitam lewat Turntable saat main ke tempatnya. Rasanya norak banget waktu pertama kali mencoba memutar piringan hitam.

“Kok suaranya kotor gitu?” tanyaku.

“Namanya juga vinyl, Tan. Mau jernih ya Spotify.”

Duh.

Tapi setelah itu aku lantas jadi keranjingan memutar. Koleksi piringan hitam Lennon sedikit: hanya beberapa keping album The Beatles, sebuah album dari Karen Young, dan satu keping kecil piringan hitam dari Everly Brothers. Pernah aku iseng mengejeknya karena ini.

“Dibawa kamu tahu lah siapa.”

Aku terkikik. Urusan putus cinta kadang-kadang memang sampai juga ke benda-benda. Semula berbagi kemudian kehilangan. Bukan cuma hubungannya tapi juga barang-barang kepemilikan. Aku sendiri pun tidak jauh berbeda. Nyaris setiap pasangan yang akhirnya berpisah ku pikir pasti pernah mengalaminya: kehilangan pasangan lalu kehilangan barang milik.

Seandainya saat itu aku tidak nekad menghubungi Lennon, barangkali hidupku bakal tetap baik-baik saja. Seperti sekarang ini. Hanya mungkin masih sering galau di media sosial dan ku akui itu norak sekali. Menjadi Attention Seeker. Periode putus cinta, merasa kesepian, sedih karena berpisah memang bisa membuat seseorang menampilkan sisi paling lemahnya. Aku merasa beruntung telah melewatinya. Meskipun kadang-kadang aku sempat kangen bersedih. Banyak karya seni yang lahir dari kesedihan. Lennon bilang musik Blues lahir dari kesedihan. Aku berharap kesedihanku melahirkan cerita pendek. Kenyataannya tidak. Cerita pendek lahir dari konsistensi menulis sementara kesedihan tidak berhasil mendorongku menulis setiap hari.

Lennon punya gudang cerita yang isinya macam-macam: masa kecilnya di Jember, pengalaman tinggal di asrama, putus cinta, naik gunung, nonton konser. Aku jadi sering memintanya bercerita. Topik obrolan kami jadi sangat personal. Aku merasa punya teman. Seperti kembali ke masa-masa sekolah: berteman, bermain, mendengarkan, mengalir saja.

Sekarang sudah hampir enam bulan kami bersama. Baru sebentar. Kadang-kadang kami tertawa kalau ingat, merasa enam bulan berjalan begitu saja. Kelihatan remeh dan belum apa-apa tapi kami baru saja melewati masa sulit. Kami ingin merayakannya, aku ingin merayakannya.

Kami tidak tahu apa yang akan terjadi di depan dan rasanya memang tidak perlu tahu. Tidak ada janji yang muluk-muluk. Hanya berjalan dan berjalan saja seperti umur dan kehidupan.

Kali ini aku memutuskan pindah ke Jalan Damai dan menetap.

Menyelami Kamu, Merayakan Proses Berpikir

Menemukan sebuah buku yang pernah aku baca dalam film adalah kebahagiaan kecil. Sama seperti misalnya saat aku tiba di sebuah tempat dimana aku tahu pernah ada peristiwa besar di sana. Rasanya begitu dekat, seakan-akan aku telah berteman akrab dengan sutradaranya atau seakan-akan aku mengalami sendiri peristiwa itu. Semacam kedekatan personal yang sentimentil. Perasaan semacam ini membuntutiku ketika menemukan sekumpulan lagu yang belum pernah aku dengarkan tapi berserakan di sekitarku tertulis pada novel Kamu.

Berisi sekitar 300-an halaman, Kamu adalah novel pertama yang ditulis Sabda Armandio. Tokoh aku dalam novel ini adalah seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sementara Kamu tak lain adalah teman bermain tokoh aku. Mereka bersekolah di tempat yang sama dan memutuskan untuk membolos tepat saat ujian sedang berlangsung. Cerita dalam buku ini kemudian berputar selama mereka membolos. Tokoh aku alias narator dalam cerita ini punya pacar yang hamil kemudian bunuh diri dan tokoh Kamu adalah kawannya berpetualang selama mereka bersenang-senang. Dari kerangka ceritanya, pembaca yang tergesa-gesa bisa terperosok dengan menghakimi cerita ini sebagai kisah anak remaja yang hanya pamer perilaku ugal-ugalan dan terjebak cinta monyet. Padahal sama sekali enggak  ada yang semacam itu.

kamu

Sepengetahuanku, novel-novel dari tanah air dengan tokoh yang masih duduk di bangku SMA, kerap memilih berenang pada genre teenlit, chicklit, atau semacamnya. Konfliknya kemudian seringkali terasa dangkal. Tapi dalam novel Kamu, Sabda Armandio justru memberikan pandangan segar. Ia tidak menihilkan kompleksitas seorang anak muda seperti layaknya novel populer tetapi malah menguraikannya.

Misalnya ketika narator mengungkapkan kekecewaannya pada sekolah.

“Televisi kantin rumah sakit menyiarkan berita korupsi yang terjadi dalam persiapan Ujian Nasional. Lucu sekali. Sekolah menekankan betapa buruknya mengambil hak orang lain, namun tak bisa mencegah orang-orang dalam sistem pendidikan melakukannya.”

Atau saat ia mengobrol soal kuliah dengan tokoh Kamu.

“Aku pernah baca,” ujarku. “Waktu mahasiswa di tahun 60-an dan awal 70-an ditanya soal tujuan kuliah, kebanyakan menjawab ‘mau jadi orang terpelajar’ atau ‘mau mencari tujuan hidup’. Cuma sedikit yang menjawab ‘mau punya banyak uang’ atau ‘mau kerja di tempat yang layak’. Nah, yang menarik, mulai tahun 90-an, sebagian besar menjawab ‘mau punya pekerjaan tetap dan hidup mapan’ dan seiring dengan pergeseran cara pandang itu, terjadi lonjakan angka depresi dan gangguan lainnya di kalangan mahasiswa, bahkan angka bunuh diri juga naik, lho.”

“Apa karena makna kesuksesan sudah bergeser, ya?” Kamu mengucapkan itu sambil cengengesan.

“Nggak tahu,” jawabku sebelum ikut cengengesan, namun setelah itu, mau tak mau, pertanyaan itu makin sulit dienyahkan. “Aduh, ini apa, sih? Kita ini bolos, tapi kok malah ngomongin sekolah.”

“Kita bolos justru gara-gara ada sekolah. Kalau sekolah nggak ada, konsep tentang bolos juga mustahil ada.”

“Nah,” seruku. “Mungkin itulah tujuan sekolah.”

Dalam novel Kamu, Sabda Armandio seolah-olah ingin menertawakan dunia yang kepalang besar kepala dengan memilih bocah remaja ingusan sebagai tokohnya. Sikap dan pikiran-pikiran naratornya yang masih duduk di bangku SMA justru menyiratkan kedalaman berpikir. Keresahan yang dirasakan tokoh aku juga dapat terbaca dengan baik karena dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis mampu menuangkan gagasan-gagasan yang bersemayam di dalam tempurung kepala tokoh aku tanpa terbatas.

Proses berpikir tokoh aku kemudian menjadi wajar dan tidak terkesan terlalu pintar untuk bocah seusia itu karena penulis menyebutkan sejumlah kutipan lagu, judul film, musisi, penulis, filsuf, serta para pemikir besar lain yang telah diserap oleh sang narator. Dengan kata lain tokoh aku merupakan konsumen produk budaya dan ilmu pengetahuan. Maka tidak heran jika di usianya yang masih muda ia tampil sebagai tokoh yang skeptis.

Bagaimana Sebuah Lagu Ditulis dalam Novel

“Kematian datang lebih cepat di ruang-ruang tanpa musik.”

Kutipan di atas adalah milik tokoh aku yang ia sampaikan ketika berada di rumah sakit. Aku tentu saja tidak bisa tidak sepakat. Sama seperti buku dan film, musik lahir sebagai produk kebudayaan. Denyutnya berada pada tubuh yang sama: hubungan antara situasi dunia dengan emosi dan perasaan manusia. Menemukan musik pada novel Kamu semacam membantuku memahami bagaimana sebuah lagu dapat mempengaruhi cara pandang seseorang. Sama seperti yang dilakukan oleh buku dan film.

Seno Gumira Ajidarma pernah menyebutkan bahwa sastra selamanya akan berjarak apalabila ia masih memelihara mitos-mitos yang melekat padanya. Mitos yang ia maksud adalah bahwa sastra itu curhat, sastra ditulis dengan bahasa yang mendayu-dayu, dan sastra berisi rentetan petuah. Sabda Armandio melalui novel ini aku kira berhasil menghapus mitos-mitos itu dengan membawa lagu ke dalam sebuah novel sebagai sebuah tawaran ketika menulis sebuah cerita. Pasalnya, lagu ditulis setelah melalui proses berpikir. Ia dapat dilihat sebagai sebuah sikap atas pandangan seorang musisi. Orang-orang yang lantas mencerna lagu tersebut kemudian memiliki sebuah pilihan. Mempercayai pandangan yang dibawa dari lagu itu atau mengabaikannya.

Dalam novel Kamu, aku sebagai pembaca dapat merasakan bagaimana musik memperlihatkan pengaruhnya. Misalnya ketika tokoh aku mendengar lagu berjudul River Man milik Nick Drake.

 

Betty came by on her way

Said she had a word to say

About things today

And fallen leaves

Said she hadn’t heard the news

Hadn’t had the time to choose

A way to lose

But she believes

 

Gonna to see the river man

Gonna to tell him all I can

About the plan

For lilac time

 

Betty said she prayed today

For the sky to blow away

Or maybe stay

She wasn’t sure

 

For when she thought of summer rain

Calling for her mind again

She lost the pain

And stayed for more

Betty di dalam lagu itu mengingatkanku pada perempuan teman sekelasku dan mantan pacarku; putus asa, merasa ditipu oleh hidup, dan percaya ke mana pun arahnya, hidup akan tetap menyakiti mereka. Dan River Man mungkin Tuhan. Kedua perempuan itu ingin memberitahu Tuhan bahwa seharusnya hidup menyenangkan, seharusnya hidup tidak menyakiti mereka. Keduanya berpikir untuk bunuh diri, tapi menjadi tak yakin saat terkenang hal-hal kecil yang menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka; kenangan belajar mengendarai sepeda, pujian saat mendapat nilai bagus, hadiah yang mereka dapatkan pada hari ulang tahun ketujuh, menstruasi pertama-yang pada mulanya mengerikan namun akhirnya membuat mereka senang, cinta pertama, atau hal-hal lain yang tak bisa ku bayangkan terjadi pada seorang perempuan. Hal kecil yang, minimal, membuktikan bahwa hidup tak seburuk yang mereka pikirkan. Sesuatu yang menumbuhkan harapan untuk melanjutkan hidup, setidaknya untuk sementara.

Sebuah lagu kenyataannya tidak hanya sebatas dinikmati tapi juga membantu manusia memahami manusia lain. Menyertakannya dalam sebuah novel lantas mendekatkan ia kepada pendengar dan tentu saja memantik proses berpikir baru.

 Tokoh yang Nyaris Sama dan Humor yang Gelap

Sejak dari judulnya, novel ini bagiku terasa aneh dan mengganggu. Sebagai pembaca aku terbiasa mengenali seorang tokoh dari namanya, misalnya saja Minke dalam Bumi Manusia, atau Holden Caufield dalam The Catcher in Rye. Tapi dalam novel ini aku perlu membiasakan diri dengan seorang tokoh bernama Kamu. Meskipun dalam buku ini, jika Kamu dianggap sebagai sebuah nama maka ia jadi tidak jauh berbeda seperti Minke atau Holden. Hanya saja sekalipun aku telah membiasakan diri, menyebut Kamu sebagai sebuah nama terasa begitu asing. Bukan masalah besar memang. Karena masalah yang sesungguhnya mulai terasa ketika aku bertemu dengan tokoh-tokoh lain .

Dalam beberapa bagian, rasanya nyaris seluruh tokoh dalam novel ini adalah tokoh tunggal. Aku seperti menemui satu orang yang sama, yang kemudian terpaksa dipenggal-penggal menjadi beberapa orang. Baik Aku, Kamu, atau bahkan seorang kakek bernama Su seperti punya ciri-ciri yang sama. Bukan soal fisiknya melainkan bagaimana cara mereka memandang sesuatu. Misalnya bagaimana mereka bertiga sama-sama memiliki humor yang gelap atau sesuatu semacam itu.

Tokoh aku kerap mengajukan pertanyaan yang sepintas terlihat konyol tapi sama sekali tidak lucu. Kemudian tokoh Kamu juga sering melontarkan lelucon-lelucon bernada sama. Kadang-kadang aku tertawa tetapi lebih sering aku mengerutkan dahi. Situasinya barangkali seperti saat mendengar seorang kawan bercanda dan justru reaksi yang terjadi adalah, “Apa sih?”

Tentu saja bukan leluconnya yang menjadi masalah namun cara mereka menyikapi sesuatu yang nampak seragam. Seorang tokoh bernama Kakek Su misalnya dalam beberapa pandangan juga terlihat tidak begitu berbeda dengan tokoh Aku maupun Kamu. Ia memilih bersikap tidak peduli saat dirinya dalam novel ini dikisahkan terlibat perang merebut kemerdekaan.

“Aku memilih tidak peduli, aku tidak peduli siapa menang siapa kalah, tidak peduli pada akhirnya siapa menjajah siapa, aku bahkan tidak peduli ada atau tidaknya negara. Selama aku merasa tidak dijajah siapa pun, maka aku bebas. Bagiku yang terpenting saat itu adalah perang segera berakhir. Kira-kira seperti itu. Wangi nyawa manusia tercium di tiap sudut kota, dan ketololan itu nampaknya tak akan lekas berakhir. Aku benar-benar merasa sendirian.”

Kalimat yang terucap dari Kakek Su, Aku, dan Kamu seakan menawarkan cita rasa yang serupa: ketidakpedulian yang berasal dari perasaan marah.

Alkisah suatu ketika usai menyelesaikan buku ini, aku mengungkapan keresahanku ini pada seorang kawan yang juga telah menuntaskan novel Kamu.

“Tidakkah menurutmu tokoh-tokoh di dalam buku ini sama?” tanyaku.

“Tentu saja. Tokoh Kamu itu semacam diri Aku yang lain. Seperti bercermin. Makanya judulnya Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya,” jawabnya.

Benarkah keduanya adalah tokoh yang sama?

Terlepas dari itu, keseragaman tokoh yang dapat dirasakan melalui bentuk kalimat yang nyaris bernada sama membikin cerita menjadi kering karena kemungkinan konflik antar tokoh semakin kecil. Beruntung, novel Kamu terselamatkan berkat kebaruannya dalam gaya penulisan.

Sebagai sebuah novel dengan tokoh remaja, aku rasa novel ini perlu disampaikan kepada siswa-siswa sekolah. Sudut pandang yang segar, referensi produk budaya, kompleksitas seorang anak muda, serta cara penyampaian yang menyenangkan seharusnya membuat novel Kamu perlu disimak apalagi oleh anak-anak muda. Novel ini patut diterima sebagai usaha untuk merayakan ilmu pengetahuan dan proses berpikir. Salut!

Berjalan Telanjang

Aspal jalan terasa sangat panas. Tidak ada yang sanggup berdiri di sana tanpa alas kaki lebih dari tiga detik, aku bertaruh. Kalau mendongak, sinar ultraviolet bisa langsung menyengat wajah. Tidak butuh lama untuk membuat siapa saja terbakar. Ku pakai tangan kananku untuk menghalau matahari. Dari sini jalan raya terlihat bergoyang dan rasanya di depanku ini ada berlapis-lapis gelembung tebal. Transparan. Panas. Seperti tidak ada udara. Cuaca semacam ini sanggup membuat orang menyerah.

Aku mendongak lagi dan tetap mendapati hal yang sama: jalan raya di depanku bergoyang. Membuatku makin malas berjalan. Aku hanya sanggup mendongak selama tiga detik. Selebihnya, hanya sepasang sepatu pantofel berwarna hitam yang menjadi pemandanganku selama berjalan. Sekali dua kali pemandangan berganti dengan aspal yang berlubang, atau puntung rokok, atau bungkus Taro yang telah terlindas berkali-kali, atau plastik kresek, atau bungkus rokok Djarum, atau bahkan uang. Aku berharap melihat yang terakhir.

Hampir dua jam aku berjalan. Punggungku basah karena keringat. Kaki dan tanganku perih tersengat matahari. Rambutku, saking basahnya, bisa aku peras. Rasanya gatal dan baunya penguk. Tenggoranku mulai terasa kering. Setiap kali menelan ludah aku merasa mual. Ku putuskan untuk berhenti sebentar, menepi ke sebuah lahan kosong. Tidak ada apa-apa di sana selain debu yang beterbangan setiap kali aku menyeret kaki. Tidak ada kursi atau apapun itu yang bisa jadi alas aku duduk. Tidak ada atap atau apapun itu yang bisa melindungiku dari sengatan matahari. Brengsek.

Aku mencoba mengatur nafas sambil memejamkan mata. Suara jalan raya berisik sekali. Truk, mobil, sepeda motor, bus kota, seluruhnya melaju dengan kecepatan maksimal. Mengapa manusia tidak dapat meledakkan dirinya sendiri?

Sebuah tarikan nafas panjang memenuhi rongga hidungku. Pelan-pelan ku lepas dari mulut. Gerakan ini ku ulang berkali-kali sampai ku rasa cukup untuk meredakan kelelahan. Aku berpikir tentang apa saja yang bisa mengalihkan kekesalanku. Aku berpikir tentang bagaimana jika esok pagi aku kembali ke restoran, meminta maaf kepada bos sampai ia mengijinkan aku kembali bekerja. Aku berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyelamatkanku dari kelaparan. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa memperbaiki semua ini. Tapi haruskah aku?

Pikiranku mulai kusut. Suasana hatiku rusak. Usahaku untuk meredam rasa kesal sampai pada kenangan-kenanganku yang jauh berasal dari masa sepuluh tahun silam. Masa-masa keemasan. Umurku lima belas tahun saat itu dan masalah paling berat yang pernah aku alami hanya saat aku ketahuan menabrakkan motor milik temanku. Makin lama seluruh ingatan ini makin tumpang tindih. Saat mataku kembali melek, yang aku lihat masih sama saja: jalan raya di depanku bergoyang.

Ku putuskan untuk kembali berjalan.

Baru sekitar dua puluh meter, rasanya aku melihat selembar uang lima puluh ribu. Ku condongkan tubuhku sedikit, mencoba meraih lembaran kertas berwarna biru.

“Bajingan!” aku mendelik kesal. Rupanya hanya bungkus Pocari Sweat yang terlepas dari botolnya. Persis sepersekian detik setelah itu dari arah belakang, seorang pengendara sepeda motor menepuk pantatku.

“Juancuk! Heh asu berhenti kamu! Kontol jaran, mati kamu!” rasanya darahku sudah naik sampai kepala lalu muncrat seperti air mancur. Mulutku masih terus mengeluarkan maki-makian tapi suaraku sudah tidak terdengar. Wajahku panas. Tidak bisakah manusia meledakkan dirinya sendiri?

Ponselku bergetar, sederet pesan masuk.

“Dimana kamu heh ngentot.”

“Istri macam apa kamu.”

“Aku lapar bangsat.”

“Heh asu bisamu cuma ngelonte saja.”

Badanku lemas. Kaki dan tanganku masih perih. Kepalaku pening. Keringatku mulai dingin. Rasanya aku ingin melepas seluruh pakaianku. Wajah dan tubuhku terasa sangat tebal dan berat. Tidak bisakah manusia menguliti sendiri tubuh dan wajahnya sampai lapis yang terakhir?

Aku kembali berjalan dan pelan-pelan ku rasa tubuhku makin ringan.

datsun-risers

Pukul Tiga Dini Hari

Hal-hal memburuk dan bukannya menjadi semakin baik. Apapun itu. Kalau saja bisa pindah ke tempat yang nggak ada dipeta, berteman dengan jangkrik atau ikan nila, membusuk di sana sendirian, mungkin nggak masih bisa bahagia dengan cara ini? Masalahnya manusia sudah mencapai tahap evolusi paripurna: gak bisa lagi diajak berteman. Semua orang punya masalah dan semua orang minta didengarkan tapi semua orang juga bersikap lebih asu dari asu. Maafkan aku asu, aku harus melibatkan kamu. Aku tahu kamu hewan yang menyenangkan, setia, dan bisa diandalkan. Manusia tidak lebih dari kamu, mereka hewan yang pandai mengabaikan. Apakah asu juga mengeksploitasi asu yang lain? Soalnya manusia iya.

Sayangnya nggak bisa. Selalu butuh teman. Selalu butuh manusia. Manusia dikutuk supaya membutuhkan satu sama lain kemudian saling menyakiti satu sama lain tapi tetap mencari satu sama lain. Manusia juga pandai menggandakan kutukan, salah satunya mereka menciptakan harapan. Harapan menyebabkan penderitaan. Tahi. Tahi kucing.

Kesedihan sudah tidak diperlukan lagi. Kesedihan adalah bahan lelucon terbaik. Orang-orang membuat lelucon tentang kesedihan dan menunjuk siapa saja yang sedih untuk naik ke panggung. Saat ini, itulah lelucon yang terbaik: kesedihan dan orang-orang yang bersedih.

Kata-kata sudah tidak diperlukan lagi karena diam, kata orang, punya lebih banyak kata-kata. Baik, terserah. Aku tidak bisa mendengar orang yang diam. Aku tidak tahu apa-apa. Tidak pernah tahu apa-apa. Jatuh cinta selalu membuat orang kelihatan bodoh.

Pukul tiga pagi. Aku hanya ingin tidur dan melupakan ini semua. Setelah kesedihan tidak ada lagi, cara yang kelihatannya paling baik untuk bertahan adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Hanya untuk menjadi capek dan setelah itu tidur. Karena apalagi yang mau dicari? Harapan menciptakan penderitaan. Tapi sialnya, aku selalu bangun pukul tiga pagi. Tidak berhasil melupakan semuanya dan bekerja dengan kepayahan karena kurang tidur.

Setelah dua orang tidak lagi bersama, kemana perginya cinta? Aku tidak tahu. Tidak pernah tahu apa-apa. Aku lelucon terbaik saat ini. Kesedihanku tidak lebih besar dari kesedihan semua orang. Baik, terserah. Jatuh cinta selalu seburuk ini. Orang-orang bilang semua bakal baik-baik saja. Tentu, bapak dan ibu. Hal-hal memburuk dan bukannya semakin membaik dan manusia terlatih untuk mengabaikan semuanya. Dengan itu, sejarah tentang kesedihan diciptakan dan tidak pernah selesai. Lupakan lah. Aku menulis ini hanya karena tidak bisa tidur. Sebentar lagi semua orang bakal bekerja dan semua bakal baik-baik saja.

74c13ef7e2307431c63b75380cae1f40(1)