Berjalan Telanjang

Aspal jalan terasa sangat panas. Tidak ada yang sanggup berdiri di sana tanpa alas kaki lebih dari tiga detik, aku bertaruh. Kalau mendongak, sinar ultraviolet bisa langsung menyengat wajah. Tidak butuh lama untuk membuat siapa saja terbakar. Ku pakai tangan kananku untuk menghalau matahari. Dari sini jalan raya terlihat bergoyang dan rasanya di depanku ini ada berlapis-lapis gelembung tebal. Transparan. Panas. Seperti tidak ada udara. Cuaca semacam ini sanggup membuat orang menyerah.

Aku mendongak lagi dan tetap mendapati hal yang sama: jalan raya di depanku bergoyang. Membuatku makin malas berjalan. Aku hanya sanggup mendongak selama tiga detik. Selebihnya, hanya sepasang sepatu pantofel berwarna hitam yang menjadi pemandanganku selama berjalan. Sekali dua kali pemandangan berganti dengan aspal yang berlubang, atau puntung rokok, atau bungkus Taro yang telah terlindas berkali-kali, atau plastik kresek, atau bungkus rokok Djarum, atau bahkan uang. Aku berharap melihat yang terakhir.

Hampir dua jam aku berjalan. Punggungku basah karena keringat. Kaki dan tanganku perih tersengat matahari. Rambutku, saking basahnya, bisa aku peras. Rasanya gatal dan baunya penguk. Tenggoranku mulai terasa kering. Setiap kali menelan ludah aku merasa mual. Ku putuskan untuk berhenti sebentar, menepi ke sebuah lahan kosong. Tidak ada apa-apa di sana selain debu yang beterbangan setiap kali aku menyeret kaki. Tidak ada kursi atau apapun itu yang bisa jadi alas aku duduk. Tidak ada atap atau apapun itu yang bisa melindungiku dari sengatan matahari. Brengsek.

Aku mencoba mengatur nafas sambil memejamkan mata. Suara jalan raya berisik sekali. Truk, mobil, sepeda motor, bus kota, seluruhnya melaju dengan kecepatan maksimal. Mengapa manusia tidak dapat meledakkan dirinya sendiri?

Sebuah tarikan nafas panjang memenuhi rongga hidungku. Pelan-pelan ku lepas dari mulut. Gerakan ini ku ulang berkali-kali sampai ku rasa cukup untuk meredakan kelelahan. Aku berpikir tentang apa saja yang bisa mengalihkan kekesalanku. Aku berpikir tentang bagaimana jika esok pagi aku kembali ke restoran, meminta maaf kepada bos sampai ia mengijinkan aku kembali bekerja. Aku berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyelamatkanku dari kelaparan. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa memperbaiki semua ini. Tapi haruskah aku?

Pikiranku mulai kusut. Suasana hatiku rusak. Usahaku untuk meredam rasa kesal sampai pada kenangan-kenanganku yang jauh berasal dari masa sepuluh tahun silam. Masa-masa keemasan. Umurku lima belas tahun saat itu dan masalah paling berat yang pernah aku alami hanya saat aku ketahuan menabrakkan motor milik temanku. Makin lama seluruh ingatan ini makin tumpang tindih. Saat mataku kembali melek, yang aku lihat masih sama saja: jalan raya di depanku bergoyang.

Ku putuskan untuk kembali berjalan.

Baru sekitar dua puluh meter, rasanya aku melihat selembar uang lima puluh ribu. Ku condongkan tubuhku sedikit, mencoba meraih lembaran kertas berwarna biru.

“Bajingan!” aku mendelik kesal. Rupanya hanya bungkus Pocari Sweat yang terlepas dari botolnya. Persis sepersekian detik setelah itu dari arah belakang, seorang pengendara sepeda motor menepuk pantatku.

“Juancuk! Heh asu berhenti kamu! Kontol jaran, mati kamu!” rasanya darahku sudah naik sampai kepala lalu muncrat seperti air mancur. Mulutku masih terus mengeluarkan maki-makian tapi suaraku sudah tidak terdengar. Wajahku panas. Tidak bisakah manusia meledakkan dirinya sendiri?

Ponselku bergetar, sederet pesan masuk.

“Dimana kamu heh ngentot.”

“Istri macam apa kamu.”

“Aku lapar bangsat.”

“Heh asu bisamu cuma ngelonte saja.”

Badanku lemas. Kaki dan tanganku masih perih. Kepalaku pening. Keringatku mulai dingin. Rasanya aku ingin melepas seluruh pakaianku. Wajah dan tubuhku terasa sangat tebal dan berat. Tidak bisakah manusia menguliti sendiri tubuh dan wajahnya sampai lapis yang terakhir?

Aku kembali berjalan dan pelan-pelan ku rasa tubuhku makin ringan.

datsun-risers

Advertisements

Pukul Tiga Dini Hari

Hal-hal memburuk dan bukannya menjadi semakin baik. Apapun itu. Kalau saja bisa pindah ke tempat yang nggak ada dipeta, berteman dengan jangkrik atau ikan nila, membusuk di sana sendirian, mungkin nggak masih bisa bahagia dengan cara ini? Masalahnya manusia sudah mencapai tahap evolusi paripurna: gak bisa lagi diajak berteman. Semua orang punya masalah dan semua orang minta didengarkan tapi semua orang juga bersikap lebih asu dari asu. Maafkan aku asu, aku harus melibatkan kamu. Aku tahu kamu hewan yang menyenangkan, setia, dan bisa diandalkan. Manusia tidak lebih dari kamu, mereka hewan yang pandai mengabaikan. Apakah asu juga mengeksploitasi asu yang lain? Soalnya manusia iya.

Sayangnya nggak bisa. Selalu butuh teman. Selalu butuh manusia. Manusia dikutuk supaya membutuhkan satu sama lain kemudian saling menyakiti satu sama lain tapi tetap mencari satu sama lain. Manusia juga pandai menggandakan kutukan, salah satunya mereka menciptakan harapan. Harapan menyebabkan penderitaan. Tahi. Tahi kucing.

Kesedihan sudah tidak diperlukan lagi. Kesedihan adalah bahan lelucon terbaik. Orang-orang membuat lelucon tentang kesedihan dan menunjuk siapa saja yang sedih untuk naik ke panggung. Saat ini, itulah lelucon yang terbaik: kesedihan dan orang-orang yang bersedih.

Kata-kata sudah tidak diperlukan lagi karena diam, kata orang, punya lebih banyak kata-kata. Baik, terserah. Aku tidak bisa mendengar orang yang diam. Aku tidak tahu apa-apa. Tidak pernah tahu apa-apa. Jatuh cinta selalu membuat orang kelihatan bodoh.

Pukul tiga pagi. Aku hanya ingin tidur dan melupakan ini semua. Setelah kesedihan tidak ada lagi, cara yang kelihatannya paling baik untuk bertahan adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Hanya untuk menjadi capek dan setelah itu tidur. Karena apalagi yang mau dicari? Harapan menciptakan penderitaan. Tapi sialnya, aku selalu bangun pukul tiga pagi. Tidak berhasil melupakan semuanya dan bekerja dengan kepayahan karena kurang tidur.

Setelah dua orang tidak lagi bersama, kemana perginya cinta? Aku tidak tahu. Tidak pernah tahu apa-apa. Aku lelucon terbaik saat ini. Kesedihanku tidak lebih besar dari kesedihan semua orang. Baik, terserah. Jatuh cinta selalu seburuk ini. Orang-orang bilang semua bakal baik-baik saja. Tentu, bapak dan ibu. Hal-hal memburuk dan bukannya semakin membaik dan manusia terlatih untuk mengabaikan semuanya. Dengan itu, sejarah tentang kesedihan diciptakan dan tidak pernah selesai. Lupakan lah. Aku menulis ini hanya karena tidak bisa tidur. Sebentar lagi semua orang bakal bekerja dan semua bakal baik-baik saja.

74c13ef7e2307431c63b75380cae1f40(1)

Beginners dan Para Tokohnya yang Artsy

Ayahmu adalah direktur sebuah museum sementara ibumu, selain seorang ibu rumah tangga yang baik, adalah juga seseorang yang membesarkanmu dengan cukup eksentrik. Dapatkah kamu menebak bagaimana pribadimu dengan kedua orang tua seperti itu?

Oliver Fields, yang diperankan oleh Ewan McGregor, tidak lain adalah ‘kamu’ yang aku maksud. Pada tahun 2003 saat usianya 38, ia telah bekerja sebagai desainer grafis dalam sebuah label musik pop di Los Angeles.  Pekerjaannya membuatkan cover album bagi band-band indie. Kadang-kadang ia harus kecewa karena idenya tidak cocok dengan pelanggan, para musikus itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia dalam kasus ini bukan seniman yang bebas membuat karya sesuai keinginannya. Oliver adalah kaki tangan perusahaan jasa yang dibayar untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

beginners-57002c5ed480e

Beginners, sesuai judulnya, adalah film tentang bagaimana seseorang memulai kembali hidupnya yang berantakan. Apakah yang dimaksud adalah hidup Oliver? Tentu saja. Memangnya apa masalah dia?

Ibu Oliver baru saja meninggal. Lalu tidak lama setelah itu, ayahnya yang bernama Hal -diperankan oleh Christoper Plummer- didiagnosa terkena kanker. Usianya memang sudah tua. Oliver sangat menyayangi Hal dan film ini meskipun masuk dalam genre drama, jauh dari kesan kisah tragis tentang anak yang kehilangan ibu dan bapaknya. Aku sendiri, yang memang cengeng ini, tidak menangis sama sekali saat nonton. Justru malah lebih sering tertawa. Sebabnya karena memang si bapak tua Hal adalah orang yang lucu. Nggak salah kalau Oscar menobatkan Christoper Plummer sebagai Best Supporting Actor berkat aktingnya di film ini.

beginners_0602
Hal dan Oliver suka belanja buku

Yang jadi masalah adalah Hal akhirnya mengaku secara terang-terangan kepada Oliver bahwa ia seorang gay. Oliver tidak marah. Ia, dengan cintanya yang besar sebagai seorang anak, belajar memahami preferensi seksual ayahnya. Termasuk ketika akhirnya, Hal punya kekasih baru, pria tampan bernama Andy. Malah, pada masa ini lah, Oliver menyaksikan sendiri kebahagiaan sepasang kekasih yang saling mencintai. Oliver sudah lama tidak melihat ayahnya kasmaran. Ayah dan ibu Oliver menjalani rumah tangganya dengan dingin. Oliver kecil jarang bermain dengan ayahnya. Ia hampir selalu menghabiskan waktu bersama ibunya yang bernama Georgia. Oliver tumbuh dalam relasi keluarga yang timpang dan akhirnya ini membuat Oliver bermasalah dengan hubungan asmara. Saat usianya telah mencapai 38 tahun, ia bertahan sebagai seseorang yang kesepian. Menghabiskan harinya hanya untuk bekerja lalu pulang dan bermesraan dengan Jack Rusell, anjingnya yang juga introvert dan sangat loyal. Masalah mulai bertambah saat Oliver jatuh cinta dengan Anna, seorang aktris yang juga punya masalah dengan hubungan asmara. Kemudian jadi agak sedikit rumit saat hubungannya dengan Anna tersendat-sendat dan pada saat yang hampir bersamaan, ayahnya meninggal.

beginners 2
Oliver sering ngobrol dengan anjing kesayangannya dan anjingnya juga mendengarkan

Ibarat sebuah kado, sutradara film ini, Mike Mills membungkus Beginners sebagai coklat yang dibungkus kertas kado yang nyentrik. Bagaimana tidak? Hampir semua tokoh dalam film ini punya karakter dan masalah yang unik. Mulai dari Oliver yang diam-diam menyusun antologi ilustrasi berjudul The History of Sadness sampai anjingnya yang sangat penurut dan membikin siapa saja gemas. Belum lagi cara Mike Mills menarasikan latar waktu cerita. Film ini berjalan pada tahun 2003 dan kamu tahu bagaimana ia menggambarkan 2003? Dengan memberikan sejumlah foto.

Melihat foto presiden Amerika saat itu, foto binatang peliharaan, foto stereotip perempuan cantik dan laki-laki tampan, dan banyak yang lain, penonton jadi punya gambaran bagaimana situasi yang saat itu sedang merundung para tokoh. Hal semacam ini membuat aku sebagai penonton, jadi punya kesadaran kecil bahwa keputusan atau sikap seseorang bukan lahir dari narasi tunggal. Ada latar belakang sosial, budaya, dan politik yang berkelindan satu sama lain. Hal misalnya, memilih untuk menikahi perempuan dan mati-matian menolak preferensi seksualnya sebagai seorang gay karena di masa itu, publik menganggap hubungan sesama jenis adalah sebuah penyakit. Ia akhirnya harus bertahan selama 44 tahun mencumbu seorang perempuan dan apa yang terjadi? Aku sudah menyebutnya di atas. Georgia pun begitu, ia menikah dengan Hal karena dirinya adalah imigran dari Jerman, seorang Yahudi yang hidup pada jaman Nazi dan datang ke Amerika agar bisa lari dari brutalnya pemerintahan Hitler.

beg 1
Anna pacarnya Oliver. By the way ini posisi paling enak memeluk pacar kalau doi lagi banyak masalah.

Selain para tokohnya, Beginners juga menawarkan banyak pengalaman artsy yang sayang buat dilewatkan. Misalnya ketika Oliver datang ke sebuah pesta kostum sebagai Sigmun Freud dan bertemu Anna yang sedang jadi pasiennya atau saat Oliver mengendap-endap naik ke atas gedung buat mencorat-coret papan iklan yang sangat besar.

You make me laugh but it’s not funny,” coretnya. Membikin aku mikir, wah aku sering nih kayak gini, terus kenapa ya aku ketawa?

Manis, kontemplatif, dan tetap cool, Beginners bisa jadi movie yang cocok ditonton saat lagi capek dan butuh dopamin.

HER: Menulis Catatan untuk Movie yang Tidak Selesai Ditonton

Entahlah aku tidak tahu (atau terlalu malas untuk mencari tahu) apa saja syarat menulis catatan untuk sebuah film, katakanlah resensi dan dengan begitu maka aku menganggap tulis saja seperti menulis resensi buku. Modalnya: baca dulu bukunya sampai selesai. Kadang-kadang bagian awal sangat membosankan dan membuatku putus asa untuk melanjutkannya. Tapi buku sering mirip dengan orang. Waktu kamu benar-benar mendengarkan dia, maksudku tidak cuma mendengarkan apa yang dia katakan tapi memperhatikan hidungnya, bola matanya, cara dia mengatur nafas dan intonasi suaranya, merasakan emosinya, kamu tahu ada bagian terbaik dari orang ini. Buat buku, selalu ada tambahan ekstra untuk bersabar sampai dengan halaman terakhir. Sementara untuk film sampai sekarang aku belum sanggup.

Film HER didistribusikan oleh Warner Bros dan rilis ke pasar tahun 2013. Spike Jonze, pria yang awalnya suka main skateboard (dan wajahnya sekilas mirip Thom Yorke), adalah sutradara film ini. Ia sekaligus juga menjadi produser dan menulis naskah untuk film berdurasi 126 menit ini. Sebagai sutradara, HER bukan film pertamanya tapi sebagai screenwriter film ini adalah debutnya yang pertama dan langsung diganjar Best Original Screenplay oleh Academy Awards ke-86. Sayangnya maaf Jonze, justru yang membuatku putus asa dan berhenti pada menit ke-55 adalah karena percakapannya. Maksudku, aku pernah menonton Before Sunrise dan kamu tentu tahu percakapan di antara kedua tokohnya adalah yang terbaik. HER membawa ide distopian dan Before Sunrise jelas tidak tapi soal relationship, mereka sama-sama berbicara tentang ini.

her1

Tidak banyak sudut pandang segar yang aku dapatkan ketika menonton HER. Theodore, tokoh utama yang diperankan Joaquin Phoenix adalah lelaki melankolis. Mungkin ia juga seorang INFP (Introvert, Intuitive, Feeling, Perception) sama seperti Sylvia Plath atau Amelie Poulain yang super sensitif dan menyerap emosi dari apa saja yang ditangkap panca indera. Dan tentu saja kaum melankolis adalah kaum yang paling mudah merasa kesepian. Theodore pun begitu, ia anggota kaum ini. Kamu tahu, usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum kesepian tentu saja adalah dengan mencari dan mencari seseorang yang mampu mengisi lubang dalam dirinya, yang sayangnya kerapkali tidak berhasil.

Ada satu scene dalam film HER dimana Theodore bertemu dengan seorang gadis yang sangat atraktif. Kencan mereka berlangsung menyenangkan tapi Theodore menolak ketika teman kencannya bertanya apakah ia akan menemuinya lagi. Bagaimanapun, penolakan rasanya memang menyedihkan tapi aku justru sangat memaklumi keputusan Theodore. Kadang-kadang kamu bertemu dengan orang yang sangat menyenangkan tapi kamu cukup paham kalau bukan dia orangnya. Kamu hanya merasa sangat kesepian dan dia mampu membuat rasa bosanmu mentas sebentar. Setelah itu tidak ada lagi. Dia tidak cukup mengisi lubang dalam dirimu dan aku kira itu yang dirasakan Theodore.

her

Film HER memang tidak aku tonton sampai selesai tapi aku membagi film ke dalam tiga buah kategori: yang sangat menarik dan tentu sangat layak ditonton, yang membosankan alias tidak menarik tapi masih layak ditonton, atau yang tidak menarik dan tidak perlu ditonton. HER adalah kategori kedua. Membosankan karena konflik berjalan di atas sebab-akibat yang mudah ditebak. Misalnya karena Theodore sudah di ujung jalan, hubungannya dengan istrinya nyaris selesai kemudian ada orang baru. Tapi movie ini masih layak ditonton karena Spike Jonze seperti mau mengingatkan: kamu biasanya bakal tertarik dengan apa saja yang menjadi bagian terbaik seseorang tapi peluangmu untuk jatuh cinta lebih besar dengan seseorang yang berbagi emosi denganmu. Dan medium terbaik yang mampu mengantarkan emosi adalah suara. Samantha sangat berpeluang membuat Theodore jatuh cinta karena sebagai OS dengan artificial intelligent, ia mampu berkembang sesuai akal dan emosi yang disematkan kepadanya. Theodore menyaksikan ia berkembang bahkan malah mengantarnya untuk berkembang meskipun ia hanya sebatas suara.

Beberapa kali aku membayangkan jika film ini digarap oleh Wes Anderson mungkin kadar putus asa yang ditawarkan bisa lebih. Maksudku Anderson bisa membuat kameranya menyodorkan hal-hal tidak biasa yang membuat filmnya terasa sangat menganggu tapi mengagumkan. Film ini menurutku sudah lumayan menganggu. Gimana enggak? Manusia jatuh cinta sama komputer cuy. Sayangnya Jonze membawa film ini menuju romantisme yang lurus-lurus saja.

image-03-akiko-her

 

Kampung yang Hilang Setiap Bulan Februari

Aku sudah terbangun untuk yang ketiga kalinya. Saat aku terbangun pada kali pertama, kepalaku menatap jendela dan ini membuatku terjaga sesaat. Dari balik jendela aku melihat rumah-rumah yang seperti melesat bergantian dengan pohon lalu pohon lagi lalu kios pulsa lalu rumah makan lalu pohon lagi lalu indomaret lalu rumah dan rumah dan rumah dan begitu seterusnya sampai aku kembali tertidur. Aku sempat terbangun lagi dan itu adalah kali kedua tapi aku hanya terbangun untuk mengubah posisi kepalaku dari menghadap jendela menjadi menghadap kursi kosong di sebelah kanan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Sejak masuk ke dalam bis dan memilih duduk di kursi nomor dua dari depan, matahari sudah tenggelam. Aku tak dapat melihat jam tangan dengan jelas di dalam kegelapan seperti ini dan lagipula aku juga malas. Malam rasanya sudah sangat singkat. Mengecek jam hanya untuk orang-orang yang sedang tidak ingin atau tidak bisa menikmati waktu. Sementara aku sedang sangat ingin menikmati saat-saat seperti ini.

Aku dapat merasakan air hujan yang turun dengan deras di luar. Suaranya seperti jari-jari gemeretak. Memberondong atap bis. Makin lama makin keras sampai aku percaya sepertinya sebentar lagi langit-langit bis ini bakal runtuh. Apalagi di dalam sini rasa-rasanya tambah dingin. Ku ayunkan kaki untuk membenarkan posisi duduk dan alangkah kagetnya waktu aku merasakan air merembes menembus sepatuku. Kini kakiku terendam air dan ini membuatku takut sekaligus kebelet pipis. Aku beranjak dari kursi dan kekagetanku semakin bertambah saat aku lihat pintu toilet di area paling belakang bis terbuka. Kran airnya menyala hingga membuat air yang ada di dalam ember kecil meluap. Aku rasa genangan air di dalam bus ini berasal dari sana dan bukan dari air hujan. Sehingga aku sekarang punya dua rencana: pipis dan mematikan kran. Dengan begitu aku dan juga penumpang yang lain tidak jadi tenggelam. Aku mulai berjalan ke belakang tapi bis ini tiba-tiba jadi sangat panjang. Toiletnya menjadi sangat jauh. Tapi itu tidak menyurutkanku. Hanya saja setelah nyaris sampai di toilet sesuatu yang sangat keras memukul logikaku. Membuat aku tersadar bahwa halo yang benar saja sejak kapan toilet bis memiliki kran air yang mengucurkan air sampai mau menenggelamkan seisi bis. Seketika itu juga aku ingat pesan Romdi, tetanggaku, bapaknya menjual mie ayam di belakang sekolah dan aku akan merekomendasikannya sebagai 100 makanan terenak yang harus dicicipi kalau berkunjung ke kota kami.

“Jangan pernah percaya kalau kamu melihat toilet di dalam mimpi. Itu jebakan,” kata Romdi suatu kali. Jadi untuk membuktikan bahwa ini mimpi aku mengayunkan kaki sampai terpeleset. Kalau sakit berarti ini memang mimpi.

Aku baru saja mau mengayunkan kaki saat tiba-tiba tubuhku terpelanting ke belakang. Sepertinya bus berhenti mendadak. Kepalaku terbentur dan kini aku mendapati diriku sedang menatap kursi berwarna biru kelam dengan titik-titik kuning dan hijau. Semula aku mengira sedang di galaksi. Siapa tahu aku gagal bangun dari mimpi. Tapi tidak. Kepalaku sakit karena membentur kursi di depanku. Bus benar-benar mengerem mendadak. Aku berdiri sebentar untuk melihat-lihat apa yang terjadi. Ternyata bus sedang mengisi bahan bakar. Sepatuku kering. Tidak ada air yang menggenang di dalam sini juga tidak ada toilet di area belakang. Air kencingku seperti sudah di ujung. Jadi aku bilang ke Pak Sopir untuk menunggu. Aku akan ke toilet betulan sebentar.

Tidak ada yang menarik selama aku turun dari bus dan kembali lagi. Pom bensin ini seperti sarang zombie. Begitu gelap dan mengintimidasi. Di dekat toilet umum ada beberapa tong bensin yang sepertinya sudah lawas. Di atas pintu masuk toilet ada layar kecil yang berisi tulisan berjalan dengan huruf-huruf besar berwarna merah membentuk kalimat “Kencing 2000 Berak 3000 Mandi 5000”. Sebelum masuk lagi ke dalam bus aku sempat mengamati petugas pom. Untuk memastikan saja. Tidak ada tanda-tanda ia betulan zombie. Zombie tidak bisa tertawa sementara barusan aku melihat ia terkekeh dengan Bu Kondektur.

Memang tidak ada yang benar-benar menarik di dunia ini. Kecuali sampai seseorang menemukan keindahan. Itu kata Romdi bukan aku. Benar juga tapi akan lebih menarik lagi jika seseorang menemukan sebuah misteri yang sulit dipecahkan.  Aku menyapa Pak Sopir sambil lalu hanya untuk memberi tanda kalau penumpangnya sudah kembali lagi. Setelahnya yang aku ingat, aku mematung sepersekian detik karena mendapati seseorang telah duduk di kursiku.

Karena merasa tidak nyaman, aku putuskan untuk pindah ke kursi lain. Banyak yang kosong. Tapi ranselku masih ada di bagasi yang persis ada di atasnya jadi aku berjingkat berusaha meraih kembali isi duniaku.

“Apakah tadinya kamu duduk di sini? Di belakang sana bau solar sangat menyengat jadi aku pindah. Daripada aku muntah”, katanya. Aku masih berusaha meraih ranselku. Aku hanya membawa beberapa baju tapi rasanya berat sekali seperti membawa satu galon air mineral.

“Semua penumpang boleh memilih duduk dimana saja,” kataku.

Aku terhuyung-huyung karena bus sudah melaju. Lampu juga sudah dipadamkan kembali. Karena terhimpit kardus dan tas-tas lain aku jadi tidak bisa mengeluarkan ranselku. Pemiliknya tidak lain pasti mereka yang duduk di depan dan di belakang kursiku atau malah orang yang sekarang duduk di bekas kursiku ini.

“Apa ini tasmu?” tanyaku.

“Aku tidak pernah meletakkan barang-barang yang dapat menyelamatkan hidupku jauh-jauh,” jawabnya sambil mengangkat tas yang berada di pangkuannya. Orang ini mulai menjengkelkan. “Karena semua orang boleh duduk dimana saja mengapa kamu tidak duduk di sini? Kan kursi ini kosong?” kini ia bertanya. Dengan mempertimbangkan bahwa tidak mungkin bagiku jika harus membangunkan para  pemilik barang yang menghimpit tasku maka aku mengiyakan tawarannya. Jika dia cerewet aku hanya perlu mengabaikannya. Atau aku kentut saja supaya dia pindah.

Tidak ada percakapan di antara kami setelahnya. Bus melaju kencang menembus kegelapan. Sekali waktu ada satu dua mobil atau truk atau bus lain. Malam semakin pekat. Hujan sudah reda sejak aku turun dari bus tadi. Aku merasa bus ini tersedot ke sebuah jalan tak ada ujung. Dari jendela yang kini agak jauh, samar-samar aku hanya melihat pohon. Aku rasa bus kini memasuki jalan di tengah hutan. Aku mulai mengantuk lagi.

“Jangan tidur sekarang. Apa kamu tidak pernah mendengar berita tentang hilangnya bus di tengah hutan? Sebagian besar penumpang yang selamat adalah mereka yang masih tetap terjaga,” ujarnya tiba-tiba.

Aku sering mendengar kisah semacam itu. Biasanya usai menuntaskan semangkuk mie ayam bapaknya Romdi, aku dan teman-teman yang lain akan mulai membicarakan apa saja. Termasuk beberapa kali tentang kisah bus yang hilang di tengah hutan. Aku sebetulnya agak kurang percaya. Jadi aku abaikan saja peringatannya. Dia terlihat menunggu reaksiku.

“Tunggu sebentar,” ujarnya sambil mencari-cari sesuatu di dalam tas. “Makan ini supaya tidak rasa kantukmu teralihkan.”

“Apa kamu tidak pernah mendengar berita tentang raibnya barang-barang penumpang bus setelah menerima makanan dari orang asing?” balasku. Aku merasa telah memenangkan percakapan ini. Ia memasukkan kembali makanannya. Sekantung kripik usus. Aku agak lapar juga sebenarnya. Ku bayangkan usus ayam itu begitu renyah dan asin.

“Jadi sebenarnya kamu akan kemana? Surabaya, Sidoarjo, Kediri?” lanjutnya. Ia memang keras kepala dan menjengkelkan.

“Ke ujung pulau ini. Yang jelas Surabaya belum ujung,” jawabku tak kalah keras kepala.

“Oh ke sana kamu rupanya. Apa kamu pernah mendengar di kota itu ada sebuah kampung yang konon selalu menghilang setiap bulan Februari?”

“Memangnya kamu tahu kota mana yang aku maksud?”

“Itu tidak penting. Kamu bisa membuktikannya sendiri setelah sampai di sana. Makanya jangan tidur sekarang supaya kamu bisa benar-benar sampai di sana.”

Kami akhirnya menghabiskan malam itu dengan mengobrol. Mulai dari buku-buku yang kami baca, lagu-lagu yang kami dengarkan dan kami benci, sampai mengutuki para penyair yang membaca puisi dengan sangat buruk. Aku bahkan terbahak-bahak saat mendengar cerita tentang bagaimana ia mengakhiri hubungan dengan mantan kekasihnya. Lalu mulai menangis saat mengetahui nasib tragis yang menimpa keluarganya. Jelas saja semua ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Hampir seperti sepasang kekasih atau sepasang suami-istri yang lama-lama mulai seperti sepasang sahabat, kami mengalami naik dan turun. Kadang-kadang kami pun harus bertahan dari kebosanan hebat. Apakah ini terjadi hanya dalam semalam? Aku tidak tahu. Yang pasti sejak malam itu kami belum pernah melihat matahari lagi. Hanya ada malam dan jalan yang seperti tak ada ujung. Rasanya seperti sudah setahun. Kami tidak terpisahkan. Kadang-kadang keintiman kami membuatku ingin menciumnya tapi ia melarangku dengan tegas.

“Aku yakin kita tidak akan berhenti hanya dengan ciuman saja. Jika kita sama-sama kelelahan kita akan sama-sama tertidur dan jika itu terjadi kita tidak akan pernah sampai di tujuan,” katanya memperingatkanku.

Kami memang tidak terpisahkan tapi satu yang selalu kami lakukan secara terpisah. Kami selalu tidur bergantian. Jika ia tidur, aku harus menjaganya. Jika aku yang tidur, ia menjagaku. Kami harus terus melakukan ini sampai bus tiba di tujuan. Karcis busku sampai lusuh karena saking seringnya aku memastikan tanggal keberangkatan. Aku naik bus ini pada tanggal 03 Februari 2017.

“Kampung ini hanya lenyap selama bulan Februari. Jika kita bisa melewatinya, kita akan sampai di tujuan,” katanya jika aku mulai menunjukkan perilaku depresif. Aku nyaris sampai di ujung pulau Jawa ini. Tapi untuk benar-benar sampai aku harus melewati kampung yang selalu hilang di bulan Februari.

spirited-away-train

 

 

 

 

Marie Antoinette dan Bagaimana Ia Memicu Pemberontakan

085df30d5198cbff813adb8866a46988--marie-antoinette-movie-poster-shop

Marie Antoinette yang lahir dengan nama lengkap Marie Antoinette Josephe Jeanne dicatat oleh sejarah sebagai Ratu Perancis terakhir yang sangat boros. Ia mendampingi Louis Auguste atau Louis XVI yang mewarisi takhta kerajaan Perancis secara sah pada 1774 menuju kehancuran.  Kebijakannya mendukung perang Revolusi Amerika mengantarkan negara ini ke dalam krisis keuangan yang berakhir dengan jatuhnya kekuasaan Monarki Perancis.

Setiap revolusi melahirkan musuh. Dan sebagai musuh, Maria Antoinette seperti dalam film yang diproduksi oleh Columbia Pictures pada tahun 2006 justru digambarkan sebagai sosok yang jauh dari kesan kejam atau licik. Ia sangat anggun dan bahkan karakternya menularkan kekuatan. Semacam ketabahan dalam bertahan di situasi yang sulit. Tradisi hirarki dalam sistem monarki ditunjukkan Sofia Coppola, sang sutradara, sebagai sesuatu yang konyol di mata Marie. Ia harus melewati rutinitas paginya mulai dari mandi, berganti baju, dan sarapan dengan bantuan banyak bangsawan. Bantuan yang tentu saja tidak ia perlukan. Sementara kekakuan gereja Katolik yang saat itu memang sangat berkuasa di Eropa ditunjukkan Coppola dengan menampilkan raut wajah Marie yang tidak bergairah setiap kali melakukan ibadah. Selain krisis keuangan, revolusi Perancis yang terjadi pada tahun 1789 dipicu oleh ide-ide pencerahan seperti ide negara republik dan sekulerisme. Dua hal yang mau tidak mau membuat tradisi monarki dan kekuasaan gereja runtuh.

Marie dalam film berdurasi dua jam ini adalah sosok yang tahu caranya membahagiakan dirinya sendiri. Ia tidak mengutuk kesepiannya dengan berlarut dalam kesedihan. Ia mengadakan pesta, membeli gaun-gaun dan sepatu indah, dan membayar perias untuk mengalihkan kesedihan yang dibebankan kepadanya. Sebagai seorang perempuan dan seorang ratu ia dibebani oleh masyarakat jaman itu untuk sesegera mungkin melahirkan putra mahkota. Suatu kewajiban yang kita tahu sampai saat ini masih terus dibebankan kepada perempuan meskipun jaman bahkan telah mengalami perubahan bertubi-tubi. Perselingkuhannya dengan bangsawan dari Swedia, Count Axel von Fersen juga makin menguatkan ide tentang kebebasan. Marie yang diperankan oleh Kirsten Dunst jatuh cinta dengan von Fersen. Mereka pacaran, bercinta, dan bersenang-senang. Surat-surat Fersen untuk Marie dimuat dalam buku I Love You Madly-Marie Antoinette yang kabar baiknya telah diterbitkan setahun yang lalu!

Sayangnya meskipun Sofia Coppola melekatkan ide-ide feminisme yang sangat kuat pada sosok Marie, hal ini justru menjadi ironi.  Tindakan yang dilakukan Marie untuk mengalihkan kesedihannya seperti mengadakan pesta dan belanja membuat ia dicap sebagai Ratu Defisit karena semakin memperburuk kondisi keuangan Kerajaan Perancis. Kondisi yang akhirnya mendorong rakyat Perancis menyerbu istana Versailes. Melahirkan revolusi Perancis yang mengganti ide-ide lama dengan ide kebebasan (liberte), persamaan (egalite), dan persaudaraan (fraternite).

Benteng dan penjara Bastille diserbu oleh rakyat yang marah. Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara diterbitkan. Perempuan-perempuan yang sebelumnya berkumpul di pasar mengeluh tentang harga pangan yang makin mahal. Kekuasaannya dalam ranah domestik yang terganggu memicu mereka turun ke jalan melakukan orasi yang sampai sekarang dikenal dengan Mars Perempuan di Versailes.

Women's_March_on_Versailles01
Lukisan Mars Perempuan di Versailes

Marie hingga akhir film ini bertahan sebagai sosok yang anggun dan kuat. Ketika anggota bangsawan lain dipindahkan dari istana, ia memilih tetap di sana mendampingi suaminya. Bahkan ia melakukan salam penghomatan dengan menunduk dari atas balkon ketika rakyat Perancis yang marah berhasil menduduki halaman depan istana. Menunjukkan keanggunannya sebagai seorang pemimpin yang justru sangat ironis karena kemantapannya dalam membungkukkan badan seakan tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia hanya terlihat yakin hanya saja entah meyakini apa. Barangkali karena ia merasa berani menghadapi hukuman yang menanti di hadapannya.

top-5-marie-antoinette-scandals-622x415
Lukisan Marie Antoinette bersama Anak-Anaknya

 

Selamat Ulang Tahun, Maulana Ilham

Sore itu, aku sedang duduk di bangku panjang, memakan jamur tepung seharga sepuluh ribu rupiah yang aku beli di lapak jajanan Festival Kesenian Yogyakarta. Datang ke festival ini ternyata sama sekali tidak membantuku kembali bersemangat. Aku masih bosan tapi belum ingin pulang sehingga aku yang datang bersama Bima memutuskan untuk duduk dulu, melihat kerumunan. Biasanya kegiatan ini cukup berhasil mengembalikan mood.

Bima yang duduk di sebelahku tiba-tiba nyeletuk.

“Kayaknya ini temanku deh dari ISI Solo. Kemarin main ke sekret,” katanya sambil menunjuk dua orang laki-laki yang sedang berjalan menuju arah kami.

Aku diam, mengamati. Sepertinya aku sudah pernah bertemu dengan dua orang laki-laki ini. Yang satu kurus, rambutnya sebahu, hitam, berkilau. Sementara satunya lagi tubuhnya agak bidang, ia memakai topi dengan huruf R. Mataku sempat bertemu dengan mata laki-laki yang bertopi. Aku yakin, kami memang pernah bertemu sebelumnya. Bangku di sebelah kami masih kosong dan mereka lalu duduk di sana. Bima, seperti biasa, dengan aura sok kenalnya langsung menyambar.

“Ndak yo kamu dari ISI Solo?” tanya Bima.

Yang ditanya, laki-laki berambut indah sebahu yang kelak aku kenal bernama Mathor, menggeleng dengan raut muka bingung. Begitu pun Bima. Sementara laki-laki satunya, malah mengiyakan. Kami semua akhirnya tertawa. Untung saja, pria bertopi tadi membawa sebotol minuman ena-ena (haha). Kami kenalan dan ia menawari aku dan Bima untuk ikut minum. Suasana jadi mencair.

“Masnya yang kemarin jadi MC ya di launching buku Nick Drake?” tanyaku pada pria bertopi.

Ia membalas pertanyaanku dengan wajah sumringah. “Iya. Mbak kemarin kok nggak tanya?”

Dalam hati aku tersenyum. Pertama karena ia ternyata cukup memperhatikanku yang sudah setengah mati berusaha invisible saat datang ke launching buku Nick Drake dan yang kedua karena dugaanku benar, aku pernah bertemu dengan mereka berdua. Aku dan Bima sudah pernah bertemu Mathor saat ia membacakan puisi di Tugu Jogja. Malam itu kami berdua sama-sama mengaguminya. Aku senang dengan penampilannya sementara Bima senang dengan rambutnya yang indah. Ia berharap punya rambut yang sama.

Kelak, firasat Bima sore itu terbukti tidak meleset. Ia yang mengetahui kalau aku dan pria bertopi tadi bertukar akun instagram sudah menduga bahwa kelak aku dan pria itu akan saling jatuh cinta. Dan Bima benar.

Pria itu, namanya Maulana Ilham. Teman-temannya memanggilnya Huhum. Kami menjadi semakin dekat setelah aku memesan sebotol minuman. Kencan pertama kami berlangsung pada hari Senin, pukul dua belas siang, waktu Jogja lagi panas-panasnya.

Aku paling senang melihat dia tersenyum dan ia memang sering tersenyum. Saking seringnya, saat aku lagi marah, ia masih saja terus tersenyum, membuatku ingin membanting diri seperti kulit martabak yang dibanting-banting penjualnya. Dia melarangku memberi uang kepada pengemis atau pengamen.

“Mending kamu kasih ke orang-orang yang sudah bekerja keras.”

Aku melotot, protes.

“Ya tapi terserah kamu sih.”

Sejak itu aku tahu ia laki-laki yang keras kepala. Ia mengenalkan aku pada Sudjojono, Mia Bustam, Edouart Manet, Baudelaire, ekspresionisme, impresionisme, lukisan The School of Athens yang menurutnya berhasil menggambarkan masa depan tentang adanya dua golongan yaitu mereka yang percaya seni untuk seni atau seni untuk rakyat. Ia mengenalkan semua yang pada awalnya membuatku muak dan akhirnya membuatku menyesal karena telah bersikap seperti itu. Kecintaannya pada seni rupa di atas segalanya. Ia selalu menceritakan apa saja yang berhubungan dengan seni rupa, entah itu tokoh, karya, atau polemik dengan bersemangat. Suatu ketika ia pernah minta maaf untuk ini, sepertinya karena ia sadar bahwa ia telah mendominasi setiap percakapan kami dengan ihwal seni rupa. Aku pernah bertindak bodoh dengan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak peduli dengan semua itu. Aku sangat menyesalinya sampai saat ini.

Dari dia aku belajar bahwa orang-orang hebat adalah orang-orang gila. Dan dia salah satunya. Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara yang ia adakan, aku sempat melihatnya memeluk Samuel Indratma. Ia sangat sering menceritakan seniman berambut gondrong yang membaca puisi seperti seorang ayah yang mendongeng untuk anaknya itu. Rasanya aku ingin menangis. Ia terlihat sangat bahagia. Aku merasa sangat jahat karena telah bersikap seolah-olah tidak mendukungnya.

Hari ini, ia ulang tahun. Usianya dua puluh enam. Kami jarang berkomunikasi apalagi lewat telepon genggam. Ia tidak pernah basa-basi menyapaku lewat gawai. Kami hanya bertemu kadang-kadang, saat malam bahkan sudah hampir selesai dan tubuh kami masing-masing sudah kelelahan. Harapanku banyak. Harapan ia jauh lebih banyak. Aku berdoa kepada langit agar kami bisa terus bersama-sama, bagaimana pun sulitnya.

“Harapanmu satu per satu naik ke langit, begitu juga harapanku. Sampai pada akhirnya kita berdua bertemu untuk terus saling mengisi, seperti kata-katamu.”

Kalau aku boleh minta, aku mau minta ini aja. Tolong dong jangan makin ganteng, ya? Nanti banyak yang naksirrrrrr.

Selamat ulang tahun, Maulana Ilham.

IMG_1641